
Selalu ada sesuatu yang membuat cahaya lilin menjadi menarik. Entah keeksotisan, pun nuansa keintiman yang diciptakannya. Tak heran jika makan malam romantis identik dengan lilin—sebut saja candle light dinner.
Namun, siapa nyana, lilin ternyata juga berpotensi dalam peningkatan emisi karbon dari hasil pembakarannya—termasuk dari sumbunya yang mengandung unsur besi dan timbal. Lilin yang biasa kita jumpai memiliki bahan dasar paraffin (minyak tanah) yang akan meleleh pada suhu 47–65 derajat Celsius. Uap hasil pembakarannya mengandung Carcinogen dan zat berbahaya lainnya, seperti Acetaldehyde, Acrolein, Benzene, Formaldehyde, Polychlorodibenzo-p-dioxins, Polyaromatic Hydrocarbons, dan Toulene.
Selain itu, zat karbon yang terkandung pada paraffin juga akan ikut menguap dan menambah jumlah karbon yang ada di atmosfer. Begitupun dengan jenis lilin beraroma. Aroma yang tercipta dari jenis lilin ini merupakan hasil proses sintetis bahan-bahan kimia. Lilin jenis ini juga sangat berpotensi dalam penghancuran emisi lingkungan.
Nah, jika Anda termasuk yang peduli lingkungan, baiknya Anda pilih lilin alternatif yang lebih ramah lingkungan. Lilin seperti ini sudah banyak tersedia di supermarket, yang paling populer adalah lilin berbahan dasar kedelai dan (sarang) lebah. Keduanya memiliki titik leleh yang rendah. Untuk keromantisan, Anda tak perlu takut. Lilin jenis ini juga memiliki wewangian.
Bahkan, wewangian yang ditimbulkannya bersifat alami—bukan hasil sintetis bahan kimia. Selain itu, sumbu lilin-lilin jenis ini terbuat dari hasil daur ulang katun, jerami, atau kertas fiber. Sebuah langkah kecil seperti ini rasanya cukup untuk kita menyelamatkan bumi. Dan, seperti yang Anda ketahui, every small change makes a difference if it's multiplied millions of times.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar